Search

Tiga Skenario Dampak COVID-19

Updated: May 15, 2020


Kemunculan virus COVID-19 di akhir 2019 bak bola salju, bergulir dengan cepat menjadi sebuah pandemi. Dua bulan telah berlalu sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020. Pun demikian, hingga kini jumlah kasus positif COVID-19 terus bertambah dari hari ke hari.


Berangkat dari situasi tersebut, penting bagi sektor bisnis untuk memiliki panduan dalam melangkah di masa-masa yang penuh tantangan ini. Berdasarkan analisis kami, secara garis besar terdapat tiga skenario yang mungkin terjadi di Indonesia akibat merebaknya pandemi COVID-19. Ketiga skenario ini diulas dari perspektif epidemiologi, ekonomi, serta bisnis.


Skenario pertama adalah New Normal dengan beberapa indikator sebagai berikut :

  1. Epidemiologi: Pemerintah berhasil mengendalikan virus dalam waktu 2 - 3 bulan, dengan puncaknya di akhir April dan jumlah kasus menurun secara signifikan pada Juni 2020. Physical distancing tetap dilaksanakan namun dengan kebijakan terbatas. Jumlah kasus infeksi COVID-19 diestimasi mencapai 5.000 - 50.000 kasus di Indonesia.

  2. Ekonomi: Kebijakan dari pemerintah dapat mencegah kerusakan struktural pada ekonomi; ekonomi Indonesia berhasil rebound ke level dan momentum sebelum krisis dengan level pertumbuhan PDB menurun sedikit ke level sekitar 3 – 4 %.

  3. Bisnis: Ada sedikit gangguan dalam rantai pasokan, tetapi sebagian besar bisnis masih berjalan dengan cara kerja baru (new normal). PHK dan kebangkrutan hanya di sektor yang sangat terpengaruh.


Kedua, skenario Disorder dengan indikator sebagai berikut :

  1. Epidemiologi: Virus baru berhasil dikendalikan oleh pemerintah dalam waktu 4 - 6 bulan, tetapi physical distancing harus berlanjut selama beberapa bulan setelahnya untuk mencegah kambuhnya virus. Jumlah kasus infeksi COVID-19 mencapai atau melewati 50.000 kasus di Indonesia.

  2. Ekonomi: Kemerosotan konsumsi karena kebijakan karantina. Kebijakan pemerintah melalui beberapa paket stimulus ekonomi membuat krisis perbankan dapat dihindari, tetapi dikhawatirkan banyak bisnis yang sudah atau hampir bangkrut dan terpaksa mem-PHK karyawannya. Pertumbuhan PDB dikhawatirkan menurun ke sekitar 0 – 3 %

  3. Bisnis: Rantai pasokan perusahaan semakin terganggu, cash buffer days sebagian perusahaan diestimasi pada posisi 50% (penghalusan) dari jumlah sebelum krisis.


Ketiga, skenario Survival :

  1. Epidemiologi: Pemerintah gagal mengendalikan penyebaran virus untuk jangka waktu yang lama (6 bulan keatas) menyebabkan eskalasi pandemi hingga akhir tahun atau lebih, kemungkinan sampai vaksin tersedia dan dalam jumlah yang cukup. Jumlah kasus infeksi COVID-19 diprediksi mencapai lebih dari 100.000 kasus.

  2. Ekonomi : Kebijakan moneter dan fiskal dikhawatirkan tidak dapat mempengaruhi dampak penuh dari kebangkrutan yang meluas dan tingkat pengangguran yang masif. Terdapat potensi krisis di industri keuangan dan perbankan, dan pertumbuhan PDB yang sangat minim.

  3. Bisnis: Terhentinya kegiatan produksi industri karena tidak didapatkan bahan baku alternatif, harga komoditas, pembangunan infrastruktur, dan cash buffer days perusahaan sudah terpengaruh secara ekstrim.


Terdapat 3 faktor penting yang akan menentukan hasil akhir ketiga skenario tersebut. Pertama, faktor kebijakan pemerintah untuk mengatasi dampak dari virus COVID-19 seperti halnya pemberlakuan PSBB dan program jaringan pengaman sosial untuk masyarakat kecil yang terdampak. Kedua, kepatuhan masyarakat dalam mengikuti kebijakan pemerintah dan ketiga adalah kemunculan teknologi penunjang untuk mendeteksi dan akhirnya menyembuhkan penderita virus COVID-19. Jika sudah bisa dikendalikan maka pemerintah bisa mengakhiri kebijakan WFH (working from home) yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi roda perekonomian dan bisnis negara kita.

15 views0 comments

Recent Posts

See All

Copyright © 2020 Daya Qarsa

  • LinkedIn