Search

Kepemimpinan di Kala Krisis



Sebelum Indonesia dilanda COVID-19, tantangan global sudah terasa nyata yang ditandai oleh memanasnya perang dagang AS-Cina, yang pada ujungnya berdampak pada pencoretan Indonesia dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat. Sampai kepada penyebaran COVID-19 di Indonesia yang kemudian berujung pada anjloknya harga minyak dunia dan fluktuasi nilai tukar Rupiah, telah menuntut banyak pihak untuk merubah gaya hidupnya secara keseluruhan, tidak terkecuali bagi perusahaan yang harus merubah proses bisnisnya secara drastis untuk bisa bertahan di tengah pandemi COVID-19. Dengan banyaknya tantangan tersebut, layaknya kapal di tengah badai, apakah kapal itu akan berhasil tidaknya menerjang badai juga bergantung pada nahkoda atau pemimpinnya. Pemimpin dalam hal ini memberi andil penting dalam menentukan nasib perusahaan, mengingat keadaan dengan mudahnya berubah setiap saat. Pemimpin dihadapkan pada risiko khususnya dalam mengambil tindakan dan keputusan-keputusan penting di masa krisis.


Pemimpin yang efektif dalam masa krisis

Lalu, pemimpin seperti apakah yang dapat menuntun organisasinya untuk melewati masa sulit ini? Daya Qarsa dan Daya Dimensi Indonesia dalam laporannya yang terbaru berjudul “Managing Day After Tomorrow” menganalisa unsur-unsur dasar kepemimpinan apa saja yang perlu dimiliki oleh pemimpin untuk dapat menuntun organisasinya melewati masa krisis. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa pemimpin yang efektif di situasi krisis adalah mereka yang memiliki kesadaran terhadap 3 wilayah kesadaran (consciousness), yaitu kesadaran terhadap dirinya sendiri (self-interest), kesadaran terhadap orang lain dan lingkungan (common goods), juga untuk memperbarui dirinya (transformation), yang mengacu pada pemahaman “levels of consciousness” Richard Barrett. Barrett menjelaskan bahwa ketika pemimpin memahami dimana mereka berada dalam tahap perkembangannya (level of consciousness) dan tahap apa yang akan datang berikutnya, mereka dapat mengantisipasi tantangan di masa depan dan dengan demikian mempercepat laju perkembangan mereka. Levels of consciousness Barrett sendiri terdiri dari Survival, Relationship, Self-Esteem, Transformation, Internal Cohesion, Making a Difference, dan Service.









Pemimpin yang efektif dalam melewati krisis juga harus memiliki ketenangan dan

kematangan emosi, yang bisa dirangkum dalam 5C: Calm, seorang pemimpin bersikap tenang, positif, dan memberi kepastian; Confidence, seorang pemimpin menunjukkan keyakinan dalam tindakan, ucapan, dan keputusan. Pemimpin tersebut tidak menampilkan ketidakberdayaan dan ketidakpastian, maupun keresahan yang berlebih; Clarity, seorang pemimpin menunjukkan kejelasan ke tujuan perusahaan dengan membagikan rencana strategis yang spesifik, menghindari hal normatif, umum dan asumsi, dan tidak menunjukkan keraguan; Care, seorang pemimpin harus peduli, menunjukkan dengan nyata sensitivitas (empati dan simpati) terhadap dampak perubahan pada orang lain, serta menjaga kestabilan emosi; dan Consistency, seorang pemimpin harus memiliki pendirian yang konsisten sehingga tidak menimbulkan kebingungan berbagai pihak. Dalam pengambilan keputusan, pemimpin harus berlandaskan pada misi dan nilai pribadi, sehingga dapat tampil autentik dan dapat dipercaya.

Pemimpin yang efektif harus memiliki nilai (values) dan tujuan (purpose) yang kokoh. Dijelaskan dalam “The Book of Mistakes, 9 Secrets to Creating a Successful Future” karya Skip Prichard, bahwa nilai yang dimiliki seseorang akan mendorongnya untuk mencapai sesuatu yang “lebih besar” dari dirinya. Menemukan tujuan pribadi tentunya merupakan sesuatu yang sangat berharga, tetapi untuk menemukan tujuan sebagai seorang pemimpin adalah hal yang sangat spesial. Ini bukan hanya tentang bagaimana cara meniru pemimpin atau tokoh kunci lain yang sukses, ini tentang bagaimana seseorang dapat mengidentifikasi nilai-nilai nyata yang ia pegang dalam hidup, dan mengetahui bahwa hal ini dapat memberikan tujuan yang pasti untuk membantunya membuat keputusan yang sulit sebagai pemimpin.


Dalam Global Leadership Forecast 2018 yang dilakukan oleh Development Dimensions International, dijelaskan bahwa tujuan adalah alasan aspirasional untuk menginspirasi dan bertindak bagi organisasi, mitra, pemangku kepentingan, dan masyarakat secara keseluruhan. Dijelaskan juga bahwa penelitian secara konsisten menemukan bahwa tujuan yang ‘tegak’ memungkinkan organisasi untuk tetap berkinerja baik di situasi yang sangat dinamis, tujuan tersebut meningkatkan keterlibatan karyawan, bertindak sebagai pemersatu, menginspirasi, dan memotivasi diambilnya tindakan. Di dunia ini, tujuan berperan sebagai Bintang Utara (North Star) – suatu titik untuk membantu seseorang menavigasi melalui perubahan dan ketidakpastian. Namun, tujuan ini tidak berarti apa-apa jika pemimpin tidak melakukan apa yang diujarkan dengan berperilaku dengan cara yang tidak merefleksikan tujuan organisasi.


Menjadi purpose-driven leaders

Perjalanan seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang didorong oleh tujuan (purpose-driven leaders) harus dimulai dari menggali dan bertanya kepada diri sendiri. Apa tujuannya dalam hidup? Mengapa ia harus menuntun perusahaannya untuk melewati masa krisis ini? Apa misi yang ingin ia penuhi? Apa nilai-nilai kehidupan yang ia pegang teguh untuk mencapai tujuan tersebut? Tujuan dan nilai-nilai yang kita miliki mencerminkan apa yang kita rasa penting. Apa yang melatarbelakangi keputusan kita berkaitan dengan nilai-nilai yang kita miliki, dan semua hal yang berkaitan dengan misi dan nilai seseorang tersebut termasuk dalam tahap pengembangan Leadership Grit. Leadership Grit seseorang akan membentuk Leadership Being, yang merupakan karakter seseorang yang mencerminkan misi hidup dan nilai-nilai yang ia miliki. Hal-hal yang membentuk Leadership Being tersebut kemudian akan mendorong Leadership Action, yaitu bentuk nyata perilaku atau tindakan seseorang yang mencerminkan Leadership Grit dan Leadership Being pemimpin tersebut. Contoh dari pendekatan ini adalah ketika seorang pemimpin melihat perubahan sebagai sesuatu yang positif (Leadership Grit), akan membentuk karakter diri yang terbuka terhadap hal baru (Leadership Being) dan mendorongnya untuk melakukan banyak aksi inovatif terhadap produk atau jasa yang dihasilkan oleh timnya (Leadership Action). Bentuk Leadership Action inilah yang kemudian menentukan keberlanjutan perusahaan dalam melewati masa krisis.


Bagaimana cara mengakselerasi prosesnya?

Mengakselerasi proses pengembangan pemimpin dalam masa krisis dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang berawal dari pemimpin itu sendiri. Tentunya pemahaman akan dirinya melalui pemahaman level kesadaran harus dimengerti dahulu pemimpin tersebut. Ketenangan dan kematangan emosi bisa juga dilatih mandiri, juga disarankan untuk mempunyai mitra akuntabilitas dalam pengembangan diri ini. Menjadikan pemimpin yang didorong oleh tujuan bisa dilaksanakan mandiri dan dalam konteks perusahaan juga. Perusahaan dapat mengikutsertakan pemimpin-pemimpinnya ke dalam program-program pengembangan seperti group coaching, formal/virtual learning, atau juga executive/individual coaching. Selain melalui program pengembangan formal, pemimpin juga bisa mencari online courses untuk self-learning melalui digital platform.

Sebagai penutup, tidak kalah penting juga dalam proses akselerasi ini adalah strategic team alignment atau penyelarasan tim strategis dalam menghadapai situasi krisis ini yang biasanya dilakukan dengan mengumpulkan para pemimpin perusahaan dalam waktu tertentu untuk saling berbicara dan memahami satu sama lain sebelum menghadapi krisis bersama. Intinya, seluruh cara ini adalah proses untuk menciptakan pemimpin yang sadar posisi dirinya, memiliki ketenangan dan kematangan emosi, serta melahirkan pemimpin yang didorong oleh tujuan (purpose-driven leaders).

65 views0 comments

Recent Posts

See All